Kamis, 22 Januari 2009

SATE KUDA DAN MARTINA NAVRATILOVA

BAB 14

Bukit tinggi masih berselimut, dingin menggigit, tetapi bagi kami penumpang telaga indah, dingin bukit tinggi belum seberapa jika dipersandingkan dengan dinginnya malam di alahan panjang atau diTalang Babungo.

Yang jadi soal, kami terlalu pagi untuk menjadi tamu Bukit Tinggi, sedari pagi kemarin telaga indah berlari, berhenti sebentar didanau singkarak, meningglkan Ikan bilih yang sempat menyambut kami dipingggiran danau, dan tentu saja sedikit oleh oleh kuhadiahkan pada para bilih itu, karena ketika di Batang Gumanti, sampah yang tersimpan diperutku tak jadi kubuang, dan inilah saatnya untuk bersedekah pada ikan khas Danau Singkarak, barangkali segerombolan ikan itu telah merasa puas dan berterima kasih, saat Telaga Indah kembali berlari. Dan melepas lelah di Batu sangkar.

Dakam rute perjalan Batu sangkar memang menjadi salah satu tujuan yang akan dilihat, sebagai kota budaya batusangkar memang menjanjikan sebagai daerah wisata sejarah dan budaya, cagar budaya, situs dan benda purbakala menjadi salah satu daya tarik yang messti dikunjungi dikota ini, termasuk salah satunya Istaana Pagaruyuang.

Istana Pagaruayuanglah sebanrnya yang menjadi magnit paling besar bagi para wisatawan untuk berbetah betah di Batusangkar, nama yang aneh memang, tetapi batu sangkar membuat telaga indah dapat mengemasi persiapan energi untuk kembali hingga menjelang tengah malam berhasil memasuki Kota Wisata Bukit Tinggi.

Bukit Tinggi lah yang akan menjadi tempat paling memuaskan tidak saja bagi kami para rombongan tetapi Telaga Indah akan tidur dengan pulas, apalagi durasi perjalan melelahkan, dari Talang Babungo, melalui salimpat sebelum alahan Panjang, menyisiri kebun teh sehamparan mata memandang, jalannya seksi meliuk-liuk kanan kiri pemndangan tersaji begitu luar biasa dan menggugah, Lubuk Silasih adalah persimpanagn, belok kekiri, kita akan tersesat ke kota Padang, jalan yang harus dilalui adalah belok kekanan, karena kearah sanalah Danau Singkarak akan dituju, tentu sebelum menemui Alunan buih danau Singkarak, dan ikan bilih yang kalau digoreng akan sangat nikmat

Telaga Indah, meraung raung, mnembelah Bumi Nagari Cupak, dengan rumah penduduk yang hampir menyentuh bibir jalan, rumah toko berlantai tingkat, jalannya bergelombang seperti riak danau diatas dan dibawah, dan jarak makin dekat dengan Solok salayo, tentu saja sebelumnya kita menempuh Sukarami,

Di Solok salayo,Pusat Pemerintahan Kabupaten Solok, Kantor Bupati berdiri Gagah, tentu didalamnya ada orang orang terdidik, terlatih dan pintar, kalau tidak bisa bisa negara rugi untuk menyediakan bangunan sebagaus itu.

Kota solok sebenarnya beradik Kakak dengan Kabupaten Solok, di kota ini seperti juga Kabupaten solok, juga punya Kantor Sendiri, berada ditengah persawahan, tentu saja semuanya telah direncanakan dengan matang, mengapa ditengah sawah, bukti bahwa kemakmuran adalah cita-cita pemimpinnya.

Tidak banyak lagi yang bisa diceritakan karena saking lelahnya tampa terasa Telaga Indah sudah hampir merampungkan separoh tugasnya, mengantarkan rombongan besar keluarga besar SD No 3 Talang Babungo, studi wisata untuk menambah wawasan dan keterasingan.

Jika Buya Radhin Rahman Pulang Kampung, cerita beliau menjadi nyata dan connect, bagi kami dan sebagaian guru-guru, bukankah perjalan wisata sesuatu yang mahal dan langka?. Emngapa pula harus tertidur.?

Sakah satu kebaikan Citra Kasmili, selalu berbagi denganku, terutama soal makanan, jika ia minum cendol satu porsi akan jadi bagianku, jika ia beli buah buahan maka akan ada juga bagian untukku, salah satu keunggulanku adalah sangat antusian jika telah berkaitan dengan segala sesuatu yang beraroma makanan, kali ini sate, tepatnya sate Kuda.

seumur umur baru kali ini aku makan lontang dan deging yang berlidi itu adalah daging kuda, aku membayangkan kuda, kontan saja aku iba dan kasihan, bukankah kuda menjadi alat trasnportasi utama ke Sariak Alahan Tigo, ke Talaok, ke Pinti Kayu, Ke Sungai abu, kesariak diatas, Kuda mempunyai jasa besar bagi kelangsungan hidup murid murid ibuku, sanak keluarga murid murit itu, berkat pikulan kuda pula, ibuku dapat pasokan odol, sabun, minyak tanah, meniyak gorang, ikan asing, garam, lalu mengapa pula kuda yang disate?,

sebelum kudapatkan jawaban aroma sate yang gurih terlalu menggoda bagiku untuk tidak mencicipinya, ah persetan semuanya, inikan bukit tinggi, kawan, pasti kuda yang disembelih adalah kuda bukit tinggi, yang saban waktu mengantar para turis menjelajah kota, kuda yang tidak produktif, sudah tua dan tidak dapat lagi ditunggangi.

Dalam bergulatan itu, sebuah televisi hitam putih, mempertontonkan pertandingan tenis kelas dunia, sorang wanita berambut pirang berlari gesit kesana kemari, kedepan, kebelakang, kesamping, lincah dan dinamis, malam ini Martina Navratilova, akan mempertaruhkan reputasinya mempertahankan gelar Grand Slam yang yang pertama, dan aku juga sedang mempertaruhkan reputasi ibuku, memakan daging kuda, sama saja juga bahwa aku telah memakan sepeda mini ibuku.

PONDOK PENGIBULAN

BAB 16

Benar -benar siang yang sempurna, tuhan sedang melukis dan kanvasnya adalah langit biru.

Aku dan teman temanku, seperti biasa, sudah tiba dipondok, pondok yang justru menjadi rumah kedua bagi kami, letaknya jauh, seputaran pondok jika pandangan disapu terantuk pada tepi tepi batas bukit yang melingkar layaknya pagar. Hamparan persawahan nun sampai jauh sampai membentur dinding susunan pohon kelapa, sayang dibiarkan merimba, dan tetumbuhan seperti ilalalng, mensiang, rumput banto, eceng gondok, selebihnya tanaman khas persawahan seolah yang paling berkuasa dan tidak terlawan.

Sepanjang hamparan sesayut sayut pandangan bisa dilayangkan, seperti hamparan permadani hijau, sapi gembalaan kami begitu leluasa merancah, berpesta pora, mekan enak dan kenyang, padang rumput dan tumbuhan persawahan merupakan makan pilihan bagi sapi sapi yang dibiarkan lepas.

Wajar jika selepas sekolah, siang setelah zahur berlalu beberapa saat, gembala yang pagi tadi kami tambatkan, saatnya untuk lepas dan merdeka hingga sore menjelang, selebihnya hembusan angin sepoi sepoi, tak ada yang menghalagi tiba dipondok, melenakan kelopak mata, menyerang rasa kantuk.

Akhir akhir ini memang lahan yang begitu luas itu sering tidak diolah, kalaupun diolah, sekali musim saja dalam setahun, kalu biasanya sekali musim padi selesai maka tanam pengganti, seperti palawija, cabe, atau semaangka masih dibudidayakan, tapi belakangan Bapak-bapak, Uwan-awan, etek etek dan uda-uda yang sudah kuas kesawah merasa enggan beraktivitas disawah, tentu ada sesuatu masalah sehingga timbul rasa enggan berkubang lumpur.

Sawah tidak lagi memiliki daya tarik sehingga ditinggalkan, orang orang terbius hendak pergi merantau, menjalani falsafah masyarakat Minang, karatau madang dihulu babuah babungo balun, marantau bujang dahulu dikampuang paguno balun , merantau mengadu nasib.

Maka banyaklah anak muda kampungku yang pergi mengadu peruntungan, Tanah jawa dan semananjung Malaysia menjadi pilihan, sebuah cita cita mulia mambangkik batang tarandam , merengkuh masa depan yang lebih baik dan bermartabat, betulkah?

Entahlah waktu adalah saksi bagi semua cita cita dan harapan, mimpi mimpi yang bersemayam di benak pemuda pemuda kampungku patut diapresiasi, tetapi sayang, mereka ibarat tentera ke medan laga, tempa persiapan senjata dan bekal, jika hanya semangat dan keberanian saja, demi waktu mimpi mimpi itu akan sirna,

Akan kesawah ini jualah mereka kembali, berkubang dan berlumpur, berlunai mengadu peruntungan, mengharap tetesan rezki Allah yang Maha Pemurah. Maha Pemberi Rezki, tidak ada yang lain.

MERI DAN TERIMA KASIH CINTA

BAB 20

Siang yang membuat hatiku renyah, seorang lelaki renta tampa sengaja kusapa, bukan dengan sebuah kekaguman, sapa biasa saja, tanpa ekspresi dan intonasi, semuanya mengalir tampa ada riak dan kekaguman.

”Anak Muda, ada oleh-oleh untuk mu, untuk keinginanku, berkaryalah dari ladang kesusateraan” sebuah buku lusuh disodorkannya, kugapai tampa sebuah kekaguman apapun, bukankah lelaki itu sang pengarang buku yang ada dalam genggamanku, selintas kueja nama Soetan Boerhan Zainal sama dengan tulisan yang terukir di atas daun pintu rumahnya, kendati agak kesudut tulisannya mencolok, dan agak kebagian tengah, tertulis, ” Gadis Tanah Tepian, Akan Akoe toenggoe dikau di oejoeng zaman, .

” Buku itu kutulis dengan hati, patriotisme, dan pikiran yang terperas,” wajah yang penuh harap dan kemudian sepertinya sesuatu tengah bergejolak, dadanya bergemuruh, dan kesepian membalut sunyi.

Lelaki yang terlalu lelah untuk tetap mengabdi pada kehidupan dunia, terutama betapa keinginannya mengalirkan darah seninya pada sesorang, mungkin anak, tetapi sayang, hingga diusianya yang sangat renta, dia tidak punya siapa siapa, tidak punya pendamping hidup, kecuali buku.

Yang sampai saat ini masih membuatnya bertahan aadalah buku buku karyanya, buku buku yang sudah renta dan tidak menjanjikan, dan semenjak tiga dasawarsa terakhir, tidak adalagi karya yang dapat dihasilkannya, dan kalaupun ada yang berminat membaca karyanya adalah mahasiswa yang kebetulan sedang melakukan researc, itupun bukan mahasiswa yang mengambil studi di Dalam Negeri, tetapi umumnnya mahasiswa asing atau mahasiswa Indonesia yang sedang ditugasi mencari bahan bahan terutama menyangkut fakta sejarah pada masa penjajahan Belanda.

Angku Soetan Boeharn Zainal akhirnya menjadi teman curhatku, dan beliau mencurah begitu banyak air kedalam gelas kepalaku, menyangkut banyak hal terutama kesusasteraan yang mebuatku terinspirasi, dan suatu saat nanti, entah kapan aku akan menulis tentang sesuatu yang membuatku beruntung mengenal Angku Soetan BZ.

Dan seperti janji-janjiku bila buku perdanaku rampung, salah satu protitas orang yang akan mendapat buku Cuma Cuma dariku tentu saja Angku Soetan Zainal.

Bagaimana kalau beliau keburu meninggal sementara aku belum menulis barang sekalimatpun, atau kalaupun sudah selesai, mungkin angku sudah wafat, tulang belulang Angku sudah berserakan dan dagingnya sudah tidak ada lagi. Kepada siapa ahrus kutitipkan, jangankan anak keturunan, istripun beliau tak pernah merasakan,

”Angku pernah kecewa dan patah hati” desisnya suatu ketika.

Angku ada ada saja, patah hati bukanlah sifat lelaki, dan angku jangan menjebakku, aku bukan lelaki seperti angku, aku lelaki Angkupun lelaki, tetapi kita sungguh jauh berbeda, dalam kamusku tidak ada istilah patah hati angku, patah hati yang membuat angku sebatang kara, membuat angku tidak punya pewaris, kalau angku mati, maka angku mati penasaran, mati dalam keadaan merugi, pikirku membathin.

Merugi. Angku akan merugi karena tidak ada seorangpun yang akan menolong Angku dalam dunia lain yang akan Angku tempuh, alam barzag sampai masa penantian panjang, alam berbangkit, angku akan terlunta lunta tampa doa, seperti musafir yang kehausan,

Bukankah Pak Darman acapkali menyebutkan hanya ada tiga amalan yang pahalanya tidak terputus dan akan terus mengalir, dan yang berhak menolong Angku hanyalah anak keturunan, kecuali angku memberi sesuatu yang bermanfaat untuk hidup dan amal jahiriyah yang mengalirkan pahalanya sampai jauh laksana mata air yang tak kunjung habis.

” Kamu jangan mengejekku, aku bukan lelaki seperti yang kau bayangkan, tetapi aku berusaha menjadi lelaki yang sebenarnya, lelaki yang benar benar lelaki, bukan seperti lelaki sekarang, tak ada sedikitpun kesetiaan” Angku membuatku tak mengerti dan terpojok.

Angku jangan begitu, angku telah salah menilai, menilai dari perspektif angku sendiri, kalau itu yang angku lakukan angku akan terjebak ego, egoisme yang sulit untuk memahami diri angku sendiri, lagi lagi aku hanya sanggup membathin.

Aku tak ingin pula berpura pura merasa menjadi seorang pujangga, angku bukanlah tandinganku untuk berdebat terutama tentang masa lalu, dan kesetiaan, karena bagiku semuanya pekerjaan yang sia sia belaka, angku terlalu tangguh bagiku dan berdebatpun bukanlah solusi, ilmu belum selesai kucuri.

” Hei, anak muda, kau jangan jadi lelaki kucing air, lelaki yang mengganggap kelelakiannya, soal kelamin semata” Angku mendelik. Sembari menunjuk selangkangku, aku terkasiap sambil berkemas, kalau tidak bisa saja telunjuk angku mengenai perkakasku. Sesuatu yang menurutku tidak baik untuk pendidikan seks.

” Maafkan Aku Angku, aku kurang paham” kelitku,
” Bukan masalah paham atau tidak, tetapi kau harus mengusir jauh jauh pikiranmu yang sudah agak mulai rusak, terutama soal perempuan, buakankah kau sudah mengenal perempuan” Angku seperti mengajakku berkomunikasi dari hari ke hati, dan Aku tak perlu pula mengatakan bahawa aku sedang gencar gencarnya melobi si Meri, pasangan pawai Alegoris tempo hari, saat 17 belasan Agustus kemarin,

Meri menjadi teman sandingku, Bodinya berisi, gempal dan jelas Meri termasuk anak gadis yang selalu makan sebelum tidur, paling tidak ngemil, sosok Meri sering bermain dalam hanyalanku, dan menjadi salah seorang pemeran utama dalam mimpi-mimpiku, dan sepertinya aku akan terlibat dalam perangai anak muda sekarang, jatuh cinta.

Walau sementara, kenapa, aku sudah beberapa kali melayangkan surat, tetapi tak satupun yang berbalas, hatiku mulai resah, jangan jangan aku bertepuk sebelah tangan, tak bunyi dan mengibas angin.

Meri harus tahu bahwa aku terkasima, balutan Pakaian Adat Bali yang dikenakannya, hayalku menjadi liar, aku seperti kuda yang terlalu lama dalam kandang, darah muda ku mengalir dan Meri bersiaplah untuku.

” Angku betul, tetapi Gadis diujung zaman itu, bukankah mimpi angku yang tidak realistis, aku telah membacanya, angku harus segera bangun, angku tidak boleh bermimpi, karena masa dan zaman sudah bukan lagi mulik Angku” aku terpaksa agak berargumen dan ini adalah keberanian terbesar semenjak Angku menjadi mahaguruku. Angku tidak beraksi angku bisu dan diam, sepertinya angku tak mudah dipengaruhi.

Grand Design yang sudah lama kurenungkan kalau angku tidak juga berubah maka aku akan ajak angku bertarung, tepatnya dwitarung, gadis diujung zaman atau Meri, wanita akhir zaman.
Serombongan turis mancanegara tiba di Alahan Panjang, rombongan dari negeri Belanda, tiga orang gadis tempo Doeloe, berusia lanjut, berkepala tampa penutup, dan dua orang lelaki sepuh dan seorang pria sepertinya dialah yang menjadi kompas perjalan Mantan Kompeni itu. Berbicara serius dan angku sepertinya amat gembira dapat bercerita tentang masa lalunya, dan meraka sepertinya terlalu larut, dunia milik orang kompo dan aku sepertinya hanyal penumpang yang tidak kebagian tempat, seperti gelndangan yang terusir dari peron kareta.

Angku telah menemukan gadis akhir zamannya salah seorang dari tiga perempuan itu adalah cerita masa lalu angku, cerita tentang hati dan cinta yang tak berkesudahan, perang dan perdamaianlah yang membuat kisah itu terkubur dalam dalam, dan hati mereka berdua menympannya erat, tidak ada yang dapat membuka kecuali kunci yang mereka simpan.

Angku soetan Zainal Boerhan dan Nyanya Meneer Elizabeth dipusarakan dalam pandam Pakuburan suku Chaniago di Alahan Panjang dan menjadi cerita cinta dan pengorbannan paling romantis didunia, melebihi cerita Romeo dan juliet, Tenggelamnya Kapal Titanic, atau roman dibawah lindungan Ka’bah, apalagi dipersandingkan dengan roman populer picisan yang berselera rendah dan auratis. Gadis Tanah Tepian, Akan Akoe toenggoe dikau di oejoeng zaman?.

Angku laksana Zenith dan Nn Meneer bagai Capella, bintang paling cemerlang dalam rasi Auriga, rasi belahan utara yang bermakna Pengendara Kereta perang, dan Angku memang tidak salah, bintang ganda Capella, jujur pada garis edarnya, seperti Nn Menner, Capella jaauh, lebih jauh dari negeri Belanda, apalah artinya 45 tahun cahaya, dibanding cinta Angku Soetan, lintas masa, lintas generasi, lintas sejarah, lintas etnis, dan lintas karakter. Penjajah dan dijajah.

Seperti halnya Nn Meneer, angku Soetan, adalah juga seperti Ayahku menjadi Zenith, warisan cintanya, laksana zenith, Sebuah titik di langit yang terletak tepat diatas kepala, atau lebih tepatnya, titik yang terletak pada deklinasi +90° pada bola langit. Zenith adalah kutub dari sistem koordinat horisontal, dan secara geometris merupakan perpotongan antara bola langit dengan garis lurus yang ditarik dari pusat Bumi melalui lokasi setempat. Secara definisi, zenith adalah sembarang titik di sepanjang Meridian setempat, dan anda akan menemukan keindahan hidup termasuk janji Tuhan tentang Pertemuan, jodoh, maut dan rezki, seperti Angku dan gadis akhir zaman.






SEPEDA BUTUT

BAB 21

Agus, dan Igus adalah sohibku, kami tiga serangkai, laksana tungku, Agus dan Igus berbadang besar dan kukuh, dan aku yang paling tidak mewakili tipe orang Indonesia kebanyakan, agak kecil, perbandingan seperti jawi pesisir dan simental.

Jarak kampungku dengan sekolah tidak terlalu jauh dan sulit, kami hanya butuh 30 menit saja, kecuali kalau kondisi gawat dan darurat, kami tidak boleh telat barang sedetikpun, kalau terlambat tidak ada ampun, Pak Mahaindra, akan menghajar kami dengan hukuman. Untuk itu perlu sedikit ketergesan.

Pak Mahaindra sosok yang menjadi momok, beliau amat kukuh, apabila sudah memasuki wilayah kedisiplinan tidak ada tawar menaawar, hukum berlaku pada semua, semua warga civitas SMA Lengayang sama di depan hukum, tidak ada main uang, main mata atau tawar menawar, terutama Upit yang jago dalam soal rayu merayu , Pak Mahaindara tidak mempan dirayu, senyum manis upit berlalu tampa makna, apalagi kami yang tidak terbiasa tersenyum, apalagi tergelak akan sia-sia.

Sistem kedispilinan yang sangat kaku, standar, dan kami slalu waspada, untuk mata ajaran Pak Mahaindra, jadwal keberangkatan dimajukan, 15 menit lebih cepat, inilah yang menjadi siksaan terbesar bagi kami, kalau-kalau sepeda miniku atau tunggangan sepeda jantan Agus atau Igus bermasalah secara teknis, mogok, bukan karena kehabisan BBM tetapi ranjau dan batu kerikil yang membuat kami harus ekstra hati-hati.

Pak Mahaindra tidak sendiri, ada Buk Risdawati, yang dingin dan beku, tatapannya laksana elang, dua rahangnya kukuh gemeratak, Kimia bukanlah bidangku, itu menjadi bagian kegemaran Agus, sama halnya dengan Matematika, Fisika, sementara bagiku tetap seperti dulu, matematika dan segala turunanyan, sampai ke cicit-cicitnya, pokoknya yang berhubungan dengan rumus, hitung menghitung, kali, menambah, kecuali membagi, menjadi musuh otak kiriku. Jika ada sosok yang membuat hatiku gentar dan gemetar Buk Risdawati adalah salah satunya.

Avon menjadi bukti outentik ‘keganasan’ guru Kimia itu, salah dan shilaf, saat itu sedang berlangsung ulangan Kimia, salah satu yang paling tabu, tidak ada yang boleh celingak celinguk, mencontek, apalagi membuka buku atau jimat, pembaca, jimat adalah catatan kecil dan panjang, dilipat-lipat dan salah satu trik kecurangan konvensial dan paling banyak dipraktekkan.
“Avon, apa itu” bentak Buk Ris keras, suasa hening pecah, coretan-coretan yang ku buatpun ikut bergetar nyaliku ciut, aku persis di samping Avon, kecuranagan Avon berakibat Fatal.

“ Keluaaaaar” hardik Buk Ris seperti komandan upacara hari Kebangkitan Nasinal, suara Buk Ris Bertenaga dan tentu saja berenergi, sejurus kemudian kertas yang ada di tangan Avon disambar Buk Ris, bunyi gemerisik kertas yang tercerai berai, jawaban kimia Avon jatuh berkeping keping.

Avon berontak, berdiri spontan hendak pergi, tetapi kursi tempatnya duduk terlanjur jatuh, berisik, hentakan diluar kesadaran dan membuat Buk Ris mendidih, sebuah tamparan mendarat tepat di wajah Avon, tak terelakkan.

“Pplaaaak”

Tamparan di pipi Avon bukanlah kasus pertama, dari cerita yang beredar, telah banyak kasus kenakalan siswa yang beliau selesaikan dengan ‘elusan’ dan tidak ada yang bernyali, bahkan Eka sang ‘jawara’ sekolah kami, keder, apalagi Aku, Agus dan Igus, kami tipe orang udik, dan penakut?, orang yang tak pernah belajar karate, kungfu, atau taekwondo, tidak pernah, kalaupun ada sedikit kepandaian Silat dan itupun sudah kuno, ketinggalan zaman.

Wan Husin lebih sering kehabisan nafas, jurus silat yang diajarkannya kepada orang orang yang tidak berbakat. Jurus Silat Induk Ayam, begitu nama aliran silat itu, banyak diantara kami yang tidak yakin, namanya terlalu kampungan, Induk Ayam , bukankah ada nama yang lebih sangar dan seram, silat induk macan misalnya , silat macan ompong, atau silat kuda arab yang kedengarannya lebih perkasa dan jantan, tentu akan memberi efek lain, dibanding sekedar silat induk Ayam, leceh dan penuh cemooh.

Tentu saja Eka bukan lawan tanding kami, dan kami memang tidak masuk dalam daftar ‘jawara’ di SMA Lengayang, kami tidak akan mempu melawan jurus-jurus Eka yang terkenal, dia pemegang sabuk hitam Karate, sama seperti Buk Ris.

Ini fakta, bukan cerita saja, suatu siang yang garang, panas membakar ubun ubun, kami baru saja sampai digerbang sekolah, tiba-tiba sebuah tendangan tiba-tiba tak terduga mendarat dipunggung Agus. Igus dan Aku tersirap, jantung berdegup kencang sekali, spontanitas yang tidak lucu, Agus terhuyung huyung, seperti actor lagi Mandarin yang terkena tendangan Jet lee.
Mengapa Agus diserang?, mengapa kami tidak?, demi solidaritas ini tidak bisa dibiarkan, Agus harus dibela, dua tiga pukulan tanpa balas, dan darah kami mendidih,

“Kurang Ajar” desisku membathin, demi harga diri, demi nama tungku tigo sajarangan, demi tali tiga sepilin dan demi sepeda mini dan onthel, demi dedemit, demi..demikian.

Sebuah tendanganku hanya menembus angina, kosong dan hampa, Eka menyeringai, dan sejurus kemudian sesuatu mendarat persis di keningku, keras dan cepat, sungguh prakiraan yang sudah ku prakirakan, percuma Eka bukan sparing partner yang pas untuk anak silek, silek beraliran Induk Ayam. Aku terjengkang.

Igus mulai tak sabar, bodinya yang berisi, tinggi dan berkulit legam, tampangnya memang tidak lembut, lebih angker dari Eka sebenarnya, tetapi tidak pernah membuat gaduh, terpaksa turun gunung, ini tidak bisa dibiarkan, dan harus segera diselesaikan dengan cepat dan sigap, kekerasan harus dilawan dengan kekerasan, keras harus disandingkan dengan yang keras pula, filosofi air dilawan dengan air tidak berlaku, saat ini fostulat yang tepat, demi harga diri, Eka kami keroyok, menonton makin ramai, tiga lawan satu, pertandingan yang tidak seimbang.

Tetap saja Eka terlalu tangguh, badan yang besar tidak menjadi jaminan untuk menang, Tubuh Agus dan Igus, tidak banyak membantu, mereka sering sempoyongan, sementara aku memang jaga jarak, mataku masih nanar, dan penonton bertepuk riuh, siang yang makin hangat, dan kami menjadi tontonan seperti Ponger penjual obat kurap di Pasar Sabtu.

“ berhenti” suara bentakan, Buk Risdawati tiba tiba muncul, satu persaatu kami mendapat belaian Buk Ris.
“Pllaaaak”
“Pllaaaak”
“Pllaaaak”
“Pllaaaak”
Empat porsi tamparan dan masing-masing dapat satu porsi.






SEPEDA BUTUT

BAB 21

Agus, dan Igus adalah sohibku, kami tiga serangkai, laksana tungku, Agus dan Igus berbadang besar dan kukuh, dan aku yang paling tidak mewakili tipe orang Indonesia kebanyakan, agak kecil, perbandingan seperti jawi pesisir dan simental.

Jarak kampungku dengan sekolah tidak terlalu jauh dan sulit, kami hanya butuh 30 menit saja, kecuali kalau kondisi gawat dan darurat, kami tidak boleh telat barang sedetikpun, kalau terlambat tidak ada ampun, Pak Mahaindra, akan menghajar kami dengan hukuman. Untuk itu perlu sedikit ketergesan.

Pak Mahaindra sosok yang menjadi momok, beliau amat kukuh, apabila sudah memasuki wilayah kedisiplinan tidak ada tawar menaawar, hukum berlaku pada semua, semua warga civitas SMA Lengayang sama di depan hukum, tidak ada main uang, main mata atau tawar menawar, terutama Upit yang jago dalam soal rayu merayu , Pak Mahaindara tidak mempan dirayu, senyum manis upit berlalu tampa makna, apalagi kami yang tidak terbiasa tersenyum, apalagi tergelak akan sia-sia.

Sistem kedispilinan yang sangat kaku, standar, dan kami slalu waspada, untuk mata ajaran Pak Mahaindra, jadwal keberangkatan dimajukan, 15 menit lebih cepat, inilah yang menjadi siksaan terbesar bagi kami, kalau-kalau sepeda miniku atau tunggangan sepeda jantan Agus atau Igus bermasalah secara teknis, mogok, bukan karena kehabisan BBM tetapi ranjau dan batu kerikil yang membuat kami harus ekstra hati-hati.

Pak Mahaindra tidak sendiri, ada Buk Risdawati, yang dingin dan beku, tatapannya laksana elang, dua rahangnya kukuh gemeratak, Kimia bukanlah bidangku, itu menjadi bagian kegemaran Agus, sama halnya dengan Matematika, Fisika, sementara bagiku tetap seperti dulu, matematika dan segala turunanyan, sampai ke cicit-cicitnya, pokoknya yang berhubungan dengan rumus, hitung menghitung, kali, menambah, kecuali membagi, menjadi musuh otak kiriku. Jika ada sosok yang membuat hatiku gentar dan gemetar Buk Risdawati adalah salah satunya.

Avon menjadi bukti outentik ‘keganasan’ guru Kimia itu, salah dan shilaf, saat itu sedang berlangsung ulangan Kimia, salah satu yang paling tabu, tidak ada yang boleh celingak celinguk, mencontek, apalagi membuka buku atau jimat, pembaca, jimat adalah catatan kecil dan panjang, dilipat-lipat dan salah satu trik kecurangan konvensial dan paling banyak dipraktekkan.
“Avon, apa itu” bentak Buk Ris keras, suasa hening pecah, coretan-coretan yang ku buatpun ikut bergetar nyaliku ciut, aku persis di samping Avon, kecuranagan Avon berakibat Fatal.

“ Keluaaaaar” hardik Buk Ris seperti komandan upacara hari Kebangkitan Nasinal, suara Buk Ris Bertenaga dan tentu saja berenergi, sejurus kemudian kertas yang ada di tangan Avon disambar Buk Ris, bunyi gemerisik kertas yang tercerai berai, jawaban kimia Avon jatuh berkeping keping.

Avon berontak, berdiri spontan hendak pergi, tetapi kursi tempatnya duduk terlanjur jatuh, berisik, hentakan diluar kesadaran dan membuat Buk Ris mendidih, sebuah tamparan mendarat tepat di wajah Avon, tak terelakkan.

“Pplaaaak”

Tamparan di pipi Avon bukanlah kasus pertama, dari cerita yang beredar, telah banyak kasus kenakalan siswa yang beliau selesaikan dengan ‘elusan’ dan tidak ada yang bernyali, bahkan Eka sang ‘jawara’ sekolah kami, keder, apalagi Aku, Agus dan Igus, kami tipe orang udik, dan penakut?, orang yang tak pernah belajar karate, kungfu, atau taekwondo, tidak pernah, kalaupun ada sedikit kepandaian Silat dan itupun sudah kuno, ketinggalan zaman.

Wan Husin lebih sering kehabisan nafas, jurus silat yang diajarkannya kepada orang orang yang tidak berbakat. Jurus Silat Induk Ayam, begitu nama aliran silat itu, banyak diantara kami yang tidak yakin, namanya terlalu kampungan, Induk Ayam , bukankah ada nama yang lebih sangar dan seram, silat induk macan misalnya , silat macan ompong, atau silat kuda arab yang kedengarannya lebih perkasa dan jantan, tentu akan memberi efek lain, dibanding sekedar silat induk Ayam, leceh dan penuh cemooh.

Tentu saja Eka bukan lawan tanding kami, dan kami memang tidak masuk dalam daftar ‘jawara’ di SMA Lengayang, kami tidak akan mempu melawan jurus-jurus Eka yang terkenal, dia pemegang sabuk hitam Karate, sama seperti Buk Ris.

Ini fakta, bukan cerita saja, suatu siang yang garang, panas membakar ubun ubun, kami baru saja sampai digerbang sekolah, tiba-tiba sebuah tendangan tiba-tiba tak terduga mendarat dipunggung Agus. Igus dan Aku tersirap, jantung berdegup kencang sekali, spontanitas yang tidak lucu, Agus terhuyung huyung, seperti actor lagi Mandarin yang terkena tendangan Jet lee.
Mengapa Agus diserang?, mengapa kami tidak?, demi solidaritas ini tidak bisa dibiarkan, Agus harus dibela, dua tiga pukulan tanpa balas, dan darah kami mendidih,

“Kurang Ajar” desisku membathin, demi harga diri, demi nama tungku tigo sajarangan, demi tali tiga sepilin dan demi sepeda mini dan onthel, demi dedemit, demi..demikian.

Sebuah tendanganku hanya menembus angina, kosong dan hampa, Eka menyeringai, dan sejurus kemudian sesuatu mendarat persis di keningku, keras dan cepat, sungguh prakiraan yang sudah ku prakirakan, percuma Eka bukan sparing partner yang pas untuk anak silek, silek beraliran Induk Ayam. Aku terjengkang.

Igus mulai tak sabar, bodinya yang berisi, tinggi dan berkulit legam, tampangnya memang tidak lembut, lebih angker dari Eka sebenarnya, tetapi tidak pernah membuat gaduh, terpaksa turun gunung, ini tidak bisa dibiarkan, dan harus segera diselesaikan dengan cepat dan sigap, kekerasan harus dilawan dengan kekerasan, keras harus disandingkan dengan yang keras pula, filosofi air dilawan dengan air tidak berlaku, saat ini fostulat yang tepat, demi harga diri, Eka kami keroyok, menonton makin ramai, tiga lawan satu, pertandingan yang tidak seimbang.

Tetap saja Eka terlalu tangguh, badan yang besar tidak menjadi jaminan untuk menang, Tubuh Agus dan Igus, tidak banyak membantu, mereka sering sempoyongan, sementara aku memang jaga jarak, mataku masih nanar, dan penonton bertepuk riuh, siang yang makin hangat, dan kami menjadi tontonan seperti Ponger penjual obat kurap di Pasar Sabtu.

“ berhenti” suara bentakan, Buk Risdawati tiba tiba muncul, satu persaatu kami mendapat belaian Buk Ris.
“Pllaaaak”
“Pllaaaak”
“Pllaaaak”
“Pllaaaak”
Empat porsi tamparan dan masing-masing dapat satu porsi.






LADANG JAGUNG LADANG PEMBANTAIAN...

BAB 23

Siapa yang menanam, dia akan memetik, terasa lembut dan filosofis, tetapi tidak selalu benar, acap juga terjadi deviasi atau penyimpangan, maka ladang jagung menjadi pembenarannya.

Dari ladang jagung inilah, aku menapaki sayap asaku yang patah, patah dan tentu saja anganku melayang melingkar dari sudut kesudut, menyudutkan hatiku pada kenyataan, pahit dan luka, tidak dapat terbang.

Sembilu menyayat hati dan luka itu terasa perih dan ngilu, untuk semua harapan yang kandas, tentang sekolah yang gagal, dan juga semburat masa depan yang berwarna, dan warna itu sebanarnya hanya sekelabat bayangan hitam yang agak kelabu.

Dari radio cassetteku yang setia, mengalun nada Minang, suara rarau sesorang yang kukenal bernama Zalmon.

Bialah lah diak hujan tangah hari
Naknyo tumbuah sirumpuik banto
bialah diak denai surang diri,
kok jo ambo mungkin sansaro.

Iyo, iyo mungkin sansaro
Iyo, kok jo ambo mungkin sansaro

Santano bapisah
indak denai bakaciak hati
Sajak dulu denai lah tahu
Mimpi mimpi lah tingga mimpi

Kayu aro balapau nasi
Dingin- dingin disukarami
Lah biasa galak dinan lai
Urang nan tido manahan hati

Hujan tengah hari, hujan yang membasahi hatiku, aku menjadi orang yang kalah sebelum berperang, tidak adalagi kebanggaan, seperti ramalan Buk Nurni, bahwa aku salah satu orang yang memiliki bakat, bakat yang datang bukan dari otak bahagian kiri, tapi otak bahagian kanan. Aku tidak dapat menunaikan janji janjiku, saat ini aku hanyalah seorang petani jagung. Dilahan milik tanah ulayat kaum Ayahku.

Hidup laksana benda langit, beredar pada orbitnya, dan akan kembali berulang dalam setuasi yang berbeda?, rotasi hidup saat ini bukankah orbitku yang salah, berevolusi pada garis yang salah, dan tuhan tidak pernah salah, bukan?.

Buktikanlah kalau anda tidak percaya, bahwa hujan tengah hari, lebih banyak mudharatnya, ketimbang manfaat, itu menurut Yek Usi, lalu seberapa dahsyat efeknya pada jagung yang baru kutugal. Tentu, sesuatu yang perlu dilirik dalam teori ilmiah, dan tidak cukup hanya sekedar hipotesa, demikian juga korelasi antara hujan siang hari dengan penyakit demam, dan kaitan erat antara tugal jagung dengan posisi ketika menugal.

Menugal jangan sambil tertawa, buah jagung menjadi rusak dan tidak berbobot, tungkalnya akan aneh, apalagi jika Uwak yang ompong ikut ikutan menugal, barabe, panen jagung representasi gigi Uwak?.

Mimpi tinggalah mimpi, mimpi yang tinggi, sampai kelangit, mimpi melintasi garis hidup yang tak tentu, berjalan, berlari dan berhenti bukan ditujuan, atau aku seperti seorang pelaut yang terombang-ambing, hingga kelam menyungkup malam.

Harus seperti inikah akhir kisah hidupku?, seperti kebanyakan kawan kawanku, lena dalam kubangan lumpur dari pagi hingga petang, ketika pagi datang dan kembali menjemput petang, saban hari, saban waktu, kerna nasib juga, tidak!.

Hanya Aguslah yang bernasib lebih mujur, dia menjadi kebanggaan kampungku, dia disebut sebut sebagai intan yang selama ini tersembunyi dalam lumpur sawah Tebing Tinggi, yang akan membangkit batang tarandam, yang akan menjemput masa depan dengan sebuah harapan, dia laksana matahari.

Fakultas Teknik Nuklir, Universitas Gajah Mada, begitu selembar surat yang digengam Agus tertulis dengan huruf balok mungkin berjenis Bookman Old Style, karakter yang gagah dan berwibawa, ia memang pintar, dia belajar biasa saja, tetapi ingatannya luar biasa, sama seperti aku belajar biasa dan hasilnya juga biasa, sebuah hubungan linear yang tidak simetris.

Tapi Agus menjadi representasi Tiga serangkai, kalau aku dan Igus tercecer, kembanggaan Agus, juga menjadi pancaran kebanggaan kami, bukankah Agus menjadi bagian dari tungku tigo sajarangan.

Kita lupakan Agus, kita kembali ke Ladang Jagung, Ladang Pembantaian (killing Field), persis sama dengan Magadog, Tan Malaka, tentang ladang pembantaian, dan ladang itu menjadi lokasi revolusi hidup yang membuat aku bergejolak, hatiku dibakar gelora api, api yang terus membakar, hingga aku ciut dan menyusut, ladang jagung benar benar sebuah mimpi buruk yang selama aku gamangkan, mimpi seorang anak, beradik banyak, orang tua yang berjuang diladang masing masing, dengan perjuangan sendiri.

Idealisme ladang jagung, jangan pernah menanam jagung sembil tertawa, hasilnya jagungpun akan tertawa, dan siapa yang menaman dia akan memetik, aku akan mulai menanam seperti Agus yang memetik.

Jika anda berkesempatan untuk merenung, terutama tentang masa lalu, maka Sesuatu yang sesunggunya kurang berkenan, menjadi terkenang.

Anda akan merasakan sensasi ketika otak kanan anda bekerja leluasa.
Bekerja dengan naluri, menyibak, menyingkap dan menelisik apa pun yang terbenam dalam memori, seperti mencari intan berlian diantara lumpur.
Pencarian yang penuh sensasi, sensitif dan inspiratif.
Pencarian yang butuh kesabaran dan kejernihan, dan semua terserah anda akan giring kemana, dimana, untuk apa, dan bagaimana.
Sama halnya, untuk pencarian sesuatu yang berharga butuh keseriusan, dan hanya butuh sedikit keberanian, selebihnya adalah bahwa anda berkomitmen bahwa menempatkan fiksi dialam cerita dan penuh romantisme, daya imajinasi dan akseleratif .
Kaloborasi sedikit apapun akan menghasilkan sesuatu yang akhirnya mengiring kita pada penemuan mutiara yang sebenarnya mudah ditemukan tapi susah untuk didapatkan.
Mudah ditemukan dan susah didapatkan, sayapun seperti anda, belum menemukan apa-apa, kecuali sedikit saja dari sedikit garis edar yang setia dan pasti itu.

Siapa yang menanam dia pulalah yang memetik, tetapi kebiasaan masyarakat kampungku, melepas ternak, ternak tidak dikelola dengan tatakelola ternak yang baik paralel dengan good government atau clean governent, dilepaskan begitu saja. Menjadi awal bagiku bahwa postulat diatas perlu dipertanyakan, dalam logika, bahwa mengapa pula ternak ternak itu yang menjadi predator dan mengintai kenyamananku bertani, karena gerombolan ternak itu lapar.

Gerombolan ternak liar dan kreatif, dalam hitungan menit ladang sudah dipenuhi tumpah ruah gerombolan sapi pesisir, dan sudah bisa diduga, pucul muda, pelepah renyah dan buah jagung, seperti seumpama tanam padi yang baru saja diobrak obrik kawanan tikus sawah dan jumlah besar, mungkin ribuan. Terkulai tak berdaya.

Ladang jagungku dibantai oleh sapi pesisir terkutuk, sapi-sapi yang lahir dari proses genetik yang keliru, penyimpangan plasma nutfah sempurna, evolusi sapi menjadi kambing atau kambing menjadi sapi, badannya yang kecil sepadan dengan kambing benggala, atau representasi kambing hasil kloning pakar kehewanan Swedia, tanamku tandas.

Kini, sapi menjadi hewan yang menjadi lawan, binatang yang tak tahu diri, bukankah aku pernah mengasuh saudaramu hampir dua tahun lamanya, hingga kalaupun beranak, secara ekonomi tidak menguntungkan, tidak ada profit yang kuperoleh, kecuali masa kecil yang indah, dan memukau, itu saja.

Mohon maaf untuk kedepan aku tidak akan lagi menaruh hati pada yang namanya hewan ternak, aku tidak berminat untuk jadi pengembala, tidak juga jadi tukang sabit rumput, termasuk menjadi tukang pembuat kandang, tidak untuk kompos dari cirit jawi yang berleak-leak itu, bosan.

Kalau aku kuliah nanti, aku tidak akan mendekati jurusan kehewan, semisal fakultas peternakan, aku akan menjadi Dokter, tapi tidak dokter hewan, mendaftar di Fakultas Kedokteran atau paling tidak di Fakultas hukum.

Menjadi Dokter bukanlah cita cita ku sebenarnya, aku tahu menjadi dokter butuh kemampuan mengali, mengurang, menambah, merumus dan pokoknya perhitungan harus tepat dan akurat, maklum menyangkut nyawa. Aku terobsesi saja, karena teman temanku, termasuk Citra Kasmili, jika ditanya orang tentang cita cita, pasti Doktel, ya Doktel.

Atau, paling tidak masuk Fakultas Hukum, kendati aku tak tahu banyak tentang bidang yang satu ini, maklum dikecamatan kami hanya ada kantor polisi, dari aku tahu sampai sekarang, kantor itu masih seperti itu itu saja, belum seperti kantor-kantor lainnya, kantor camat yang bagus dan atapnya bergerigi, seperti sirip ikan, kantor KPN Kambang, tempat yang selalu rutin kujambangi, terutama dipertengahan bulan, mengambil jatah beras bulog ibuku .

Wajar saja jika watak orang dan penghuni yang berseragam dikantor itu, masih seperti itu-itu juga, tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali secara struktural, tetapi secara kultural, belum banyak berubah. Tampaknya tulisan indah ” Kami Siap Melayani Anda” Masih sebatas slogan pemanis saja.

Jangan tersinggung, kalau berurusan dengan dengan orang-orang yang ada didalam sana, jantung anda akan berdegup keras, diplototi, dibentak, dihardik. Salah satu contoh kelemahan birokrasi pelayanan publik?. ” Sebenarnya kami belum siap melayani Anda, kami minta dilayani.
Setali tiga uang dengan kantor-kantor pemerintah yang lain, sejatinya sebagai tempat rakyat berkeluh kesah, tentang berbagai masalah dan problem hidup, tetapi sampai saat sekarang, birokrasi kita masih menjadi salah satu birokrasi terburuk di dunia, pungli yang besar atau akibat gaji yang rendah?

Gaji rendah, alasan klasik mengapa kemudian masyarakat menuding bahwa birokrasi kita menjadi tidak efesien dan efektif, penuh liku dan bertele-tele, tentu saja ditambah budaya atau etis kerja yang rendah, kinerja berkaitan erat dengan capaian dan sasaran terutama pelayan itu tadi, dan tentu tidak semuanya begitu.

Contohnya Ibuku, tidak ada penghasilan lain kecuali penerimaan yang tertera pada Amprah Gaji, setelah dipotong oleh berbagai potongan, potongan uang sosial, uang KORPRI, simpanan pokok dan wajib koperasi, belum lagi potongan hutang yang hampir 60% yang hampir menyedot dan sangat mempengaruhi likuiditas keluarga kami, bantuan insidentil yang hampir tiap menerima gaji, semisal uang MTQ, uang pramuka, uang duka, uang ini dan itu, nyaris sehalaman penuh, tapi Insya Allah, gaji itu cukup dan dicukup-cukupkan, kalau tidak tentu ibuku takkan sanggup menembus gelapnya hutan basah Pinti kayu, Kajai sabatang, bukik sibunian, Andaleh, hingga Sariak Alahan Tigo,

Ibu sesosok Capella di angkasa untuk kaum guru, Bintang paling benderang yang menghiasi rasi Auriga, rasi belahan utara yang bermakna Pengendara Kereta perang, dan jujur pada garis edarnya, seperti, Ayahku, apalah artinya 45 tahun cahaya.

Gaji bukanlah satu-satunya daya tarik dalam pengabdian?.



HIKAYAT SEBUAH MEJA

BAB 2

Ayah menjadi orang pertama yang kembali ketanah takapuang ini, setelah PRRI berhasil dibelenggu oleh kekuasaan tentara Jawa, dan orang-orang yang bermukim disini kembali hidup normal dikampung, nyaris tempat ini menjadi kawasan mati, tanpa penghuni seperti perkampungan orang-orang perahu di Pulau Batam, puing-puing dan sisa sejarah yang mereka buat masih terbaca jelas.

Ayah, ibu, kakak dan adikku yang masih merangkak adalah orang orang yang kembali, orang orang yang sesungguhnya belum pernah kesini, kecuali Ayah, selebihnya Ibu, kakakku dan adikku masih berumur dua tahun.

Pelajaran pertama yang dilakunya adalah meniti jembatan penyebrangan dari batang kelapa yang dipotong, kedua ujungnya bertemu dipinggir kedua bibir tepi, dan ayah sengaja memasangnya sejajar, menjadi ganda dan amat membantu terutama bagi adikku yang masih merangkat itu.

Karena ayah menjadi orang pertama yang kembali, maka berbagai sarana pendukung mesti diperbaharuai, sebuah sumur tua, airnya masih seperti kondisi air di kontur tanah rawa, jika anda anda sisuguhkan dan disuruh memilih antara air the sariwangi dan air tanah rawa pasti anda akan bingung, warnanya persis sama dan hanya lidah saja yang bisa membedakannya.

Tampaknya usaha keras ayah tidak sia sia, kendati tidak berlatar belakang tukang kayu, apalagi penguasaan ilmu tekniknya yang lemah, tentu saja perbaikan pondok yang dilakukan ayah patut diberi apresiasi, rumah atau yang lebih tepatnya disebut pondok perladangan, yang semula sudah seperti orang mau sujud, dan sempoyongan kembali kukuh, sandi-sandi yang masih tampak utuh dengan sedikit sentuhan diperkuat dengan penambahan kayu sehingga tonggak tongkak penopang dinding sudah dirasa cukup sebagai tempat tinggal.

Aku menjadi orang rimba, oleh karenanya aku harus membiasakan diri mengauli rimba dengan segala tradisi yang berlaku, ada aturan-aturan yang harus dilaksanakan, disamping adupula pantangan-pantangan yang harus dielakkan.

Sekali lagi rimba adalah sahabatku jika malam menyungkup maka apa saja bisa jadi lawan, dingin, hujan, binatang buas, ular, sipasan, kumbang, dan berbagi jenis reptilia bisa-bisa menjadi ancaman dan itu adalah ketakutan naluriah sehingga mengharuskan manusia untuk melindungi diri.

untuk berbagai alasan keamanan maka rumah panggung yang telah direnovasi ini menjadi tempatku merenda hari-hari, inilah duniaku, ayah telah memberikan salah satu pengajaran penting, bahwa untuk memahami hidup memang harus dimulai dari dunia yang kita sendiri tidak pernah membayangkan.

Ayah menyelesaikan pekerjaannya yang dianggapnya sebagai proyek prestisius, dan ayah dengan senyum puas memandang, sembari mematut-matut sebuah meja yang berhasil diselsaikannya dengan gagah, dan aku tahu meja hasil pekerjaan tangan ayah ini merupakan model lama tetapi dengan tingkat ketelitian yang jauh dari ilmu atau teknik membuat meja.

Lihat saja hasil khatam kayu, semuanya halus, tak peduli apakah papan itu menghadap keatas atau kebawah, ajaib sekali meja itu seperti layaknya meja kebanyakan tetapi mengapa kempat kaki meja itu tidak berdiri vertical, agak miring tetapi tidak sampai membentuk posisi diagonal sempurna, kemiringannya sekitar 30 derajat.

Ibupun takjub, karena ini adalah meja pertama hasil lakek tangan ayah, ibupun terpana, ada senyum puas dirona ayah ketika ibu memberikan sedikit pujian.

Tetapi ketika aku berusaha mengetes hasil karya ayah, ibupun sempat kawatir tetapi aku tetap melanjutkan uji coba, secepat pesulap beraksi aku sudah ada diatas meja ayah, dan aku adalah orang pertama yang berhasil duduk dan seperti penyanyi yang sedang beraksi diatas panggung aku berjingkrak jingkrak, dan apa yang terjadi saudara.

“Brukk”, meja ayah ambruk, sempoyongan dan jatuh ketanah, bersama tubuh kecilku. Dan ayah telah mengabarkankan kepadaku sebuah prinsip tentang perilaku, bahwa jangan pernah melakukan pujian terhadap karya yang belum dilakukan pengujian secara ilmiah, karena sebuah hipotesa adalah tesis yang belum sempat diuji, dan hipotesa adalah dugaan, dugaan antara sesuatu yang benar dan sesuatu yang salah.

‘Terimakasih nak, kau membuat ayah paham, arti sebuah keahlian’.