Kamis, 22 Januari 2009

GADIS ITU CITRA KASMILI

BAB 11

Helikopter meraung-raung, berputar di bumi Talang Babungo, agak lama juga, mencari sasaran, menemukan saat yang tepat melakukan pendaratan, seperti elang yang sedang mengintai anak ayam, Heli itu akhirnya lambat-lambat merendah dan menyentuhkan kakiknya ditanah lapang, kendati tidak ada tempat pendaratan khusus atau heliped, kecuali sebuah lapangan sepakbola, heli itu benar-benar menancapkan kakinya yang kokoh dan berhenti sempurna, baling-balingnya pelan melambat.

Orang-orang berhamburan dan petugas bersiaga membuat pagar betis, Lapangan Tabek tumpah-ruah, seperti masyarakat memang sudah tidak sabar menunggu. para petinggi yang sudi mampir melongok bumi Talang Babungo nan cekung. Pak camat, Pak desa, wali jorong, Pak Radhin, Pak Wazal Azwar, Pak dinul Islam, Pak Harun, Pak Siak, Pak Sati dan buk Nurni yang mengagumkan, seganap ninik mamak, bundo kanduang, dari anak anak sempai dewasa, dari orang dalam kota Talang Babungo sampai orang Tabek, Bulakan, Kayu Jangguik, pinti Kayu, Sariak, Talaok bahkan ada yang dari sungai Abu, negeri hilir, dihilir Sariak Alahan tigo, tumpah ruah, ramai sekali, belum lagi rombongan Muspida Kabupaten, tentu saja Pak Bupati, Kores, dari distrik Meliter, dan tak ketinggalan Babap-bapak dari unsure kecamatan, tokoh, ulama, dukun, pawang, anak anak berseragam.

Seorang pria gagah berkacamata hitam turun dari tangga Heli, orang-orang menyambutnya terutama bapak bapak yang berbaju safari, semuanya bersalaman sambil terbungkuk-bungkuk, aku baru tahu kelak ternyata orang itu Gubernur Sumatera Barat, Azwar Anas, lengkapnya Letjen Azwar Anas, orangnya gagah, elegan, dan memeiliki senyumnya khas, senyum orang kota, senyum pembesar negeri.

Belum habis keterpanaan ku ternyata dibelakang Bapak perlente itu, juga disertai seorang Ibu, juga berkacamata Hitam, ukurannya agak besar dan gagangnya melengkung-lengkung, juga tersenyum, senyumannya merekah, momoen itu terekam begitu jelas, kebetulan aku berada pada posisi yang pas, diatas batang kayu, dan dekat dari pendaratan heli.

Sebuah kalung besar sebesar roda sepeda mini ibuku dikalungkan kepada Bapak itu, dan kemudian satu persatu berjalan mengiringi, mereka bercakap-cakap, dan anak anak gadis, yang bergaun bundo kanduang menyodorkan bawaannya, dilihat sebentar, kemudian tiga anak gadis itu mundur, kepalanya bertaandunk seperti rumah adat.

Penyambutan tidak berhenti sampai disitu, karena ada kunjungan pejabat dari Padang tentu ada permasalahan atau persoalan yang tengah terjadi, dari orang-orang aku dapat bocoran, kukira dan aku menduga bahwa kedatangan bapak bapak itu dan rombongan ingin melekukan pendekatan kemasyarakat soalnya banyak sekali perambahan hutan pinus, oleh masyarakat dan ini tentu tidak bisa dibiarkan kerna akan menggagu ekosistem hutan lagi pula pinus itu adalah proyek rebosasi pemerintah untuk mengatasi hutan yang gundul dan kemarin terbakar.

Prakiraan ku ternyata salah, kedaatangan mereka bukan karena asap tebal membumbung, ternyata itu adalah kunjungan politik dan kunjungan konsiolidasi, pemilu sudah dekat. Aku tahu bahwa Talang Babungo, kendati jauh dipelosok, tetapi disini lahir beberapa tokoh kharismatik, dan namanya harusm ditingkat Sumatera Barat, seperti Buya Haji Radhin Rahman, tokoh Muhammadiyah yang menjadi Imam Besar Masjid Taqwa, Padang, Pak Radhin memiliki pengaruh kuat di level propinsi, sementara dikampung beliau adalah ‘wali’.

Buya Radhin dekat dengan semua level, dari yang paling ‘mamacik’ sampai masayarakat ‘mancik’ bak kayu gadang, beliau adalah beringin, daunnya tempat berteduh, batangnya buat bersandar, dan uratnya ‘jelo manjelo’, artinya lagi tidak ada kusut yang tak selesai, muara persoalan beliau yang menampung, kemudian mengalir dan cair, seperti aliran Batang Gumanti, konon berhulu di Danau diatas, dan bermuara di Sungai Batang Hari Jambi, namun, melalui serangkaian perjalanan panjang dan melelahkan, aliranya singah di Talang Babungo, mengalir ke sariak Alahan Tigo, lalu ke Sungai Abu, dan baru memasuki kawasan Batang Hari, jauh juga.

Ngomong-ngomong soal Pemilu dan kunjungan Pejabat memang setali tiga uang, ketokohan Pak Radhin memang sering dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengokohkan eksistensi Partai Golkar khususnya di Kabupaten Solok, karena memang Kabupaten Solok dianggap salah satu kantung suara Partai Persatuan Pembangunan alias PPP, tapi menyangkut soalan politik Buya Radhin senantiasa mampu menjaga jarak, dan untuk yang satu ini beliau tetap konsisten berada dijalur tengah bak moto da’i sejuta ummat ‘ saya tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana’ beliau tidak memakai baju mono warna tetapi warna-warni, dan inilah yang kemudian Buya Radhin menjadi incaran pemerintah, tapi sayang usaha itu gagal, Buya Radhin terlanjur menjadi milik semua golongan, dan ummat setia mengikuti langkah itu.

Seperti biasa, Radio dari kamar ayah menyala’ mengabarkan berita kebakaran hutan pinus bukit barisan, dan beberapa berita lokal Sumatera Barat lainnya, termasuk kunjungan Gubernur Sumatera Barat ke Talang Babungo, lengkap dengan informasi dukungan Buya Haji Radhin Rahman ke Partai Golkar’, kemudian diakhir siaran bergema lagu Pemilu, mars yang selalu menjadi hiburan menjelang pelaksannn Pesta Demokrasi Lima Tahunan.


JEMBATAN AKAR TITIAN HATI

BAB 22

Aku baru saja merayakan Ultah, ulang tahun sweet seventeen, begitu indah dan menyenangkan, tidak ada memang yang memberi kado, tidak ada tiupan lilin, tidak ada nyanyian Happy Birthday, dan tidak ada kecupan atau suapan kue, semua prosesi ulang tahun berlangsung dalam hati, sama seperti Ultah ultahku selama 16 kali berlalu, semua serba tidak ada, kecuali rasa takzim, rasa yang datang dari dalam hati nun jauh.

Aku memang bukan orang yang tidak berhak untuk merayakan hari jadiku, seperti orang orang dalam sinotren yangku saksikan dari balik nako rumah tetangga, bukan itu mksudku, aku tidak biasa saja, dan untuk apa pula kertas undangan berwarna, hembusan lilin, kue, atau tragedi balon meletus.

Tapi sesuatu yang oleh Pak Haji Damhuri, amat penting di kunyah kunyah, bahwa umur yang disediakan bertambah sedikit dan berkurang, terbalik dari logika bahwa bertambah umum bertambah pula usia, nyatanya bukankah bertambah umur berkurang pula jatah hidup kita.

Badan tersisih seorang diri, karena miskin melilit hidup, tapi kali ini kesempatan yang datang dalam kesempitan, ” Pengumuman, Kesempatan untuk dua orang lagi, siapa yang ikut darmawisata ke Bayang sani dan Jembatan Akar, silahkan mendaftar dengan segera,” begitu bunyi pengumuman di papan tulis kelas.

Bukankah Jembatan Akar salah satu keajaiban dunia, keajaiaban yang Tuhan ciptakan, bukan karya manusia seutuhnya, dua pohon Aru yang bersalaman dari dua sisi tebing Batang Bayang. Akarnya berjalin kulindan, menyusuri batang bambu, dan proses yang lama akhirnya menjadi jembatan indah, unik, dan eksotis.

Sama seperti Air Terjun bayang Sani yang ramai dikunjungi, dari kajauhan tampak seperti naga putih yang meliuk-liuk didinding bukit, bertingkat dan berjenjang, menggulung dan melingkar, terjun membentuk danau pemandian dan menjadi saksi bagi sepasang insan yang sedang kasmaran.

Aku baru paham kenapa, kesempatan terakhir untuk dua orang seperti dipapan pengumuman di kelas, ada maksud tersuruk dan senagaja disamarkan, untuk mengelabui wali kelas, untuk menyebutkan ”kata sepasang’, atau sejoli’.

Di jembatan akar atau dibayang sani, kawan kawanku memang sedang dilanda darah muda, darah yang datang bersamaan dengan Akil Baligh, saat para gadis datang bulan, atau jakun anak laki laki tersumbul dan suara menjadi serakserak becek, saat kendali diri masih berisiko untuk blong, dan tindakan kawan kawan yang berpagut bergelintin sangat berbahaya.

Pemandangan yang menyesakkan, saat hujan menyertai kepulangan rombongan, hanya aku dan Agus saja yang yang benar benar merasakan dingin, selebihnya, justru menikmati anugrah alam ini dengan sepuas puasnya, mereguk cinta dan keremajaan, tentu suatu saat nanti, dalam buku dairy, akan tertulis juga tentang kekecewaan dan airmata, tentang janji-janji, tentang cita dan cinta, tentang pagutan tampa lepas, tentaang debaran jantung, tentang organ tubuh yang mulai berfungsi, dan sedikit hembusan nafsu yang mampir di ujung senja, yang menelan kami mentah mentah.


HARAPAN PATAH SEORANG IBU

BAB 9

Mentari menjemput malam dan mengusir rembulan keperaduan.
Sebentar lagi akan terjadi serah terima antara lalat dan nyamuk, saatnya lalat mengakhiri tugas bersama siang, dan nyamuk pula yang giliran untuk menjagai sepanjang malan hingga pagi sebuah kesepakatan proporsional, dan professional.

Diantara mereka tidak pernah wanprestasi, sesuai kontrak yang telah ditanda tangani dan berdasarkan bidang tugas yang memiliki prosedur tetap dan tak berubah ubah,.

Maka dari sekian banyak tentu ada pula yang nakal, akibat evolusi mereka para makluk terutama lalat dan nyamuk hari hari terakhir memang ada berbagai perubahan, kita juga menyaksikan nyamuk yang bekerja siang hari dan lalat yang bekerja malam hari, hal ini memang belum menimbulkan konflik tetapi bisa saja kalau tidak segera diatasa oleh para pengambil kebijkan di dunia mereka tentu aka nada persoalan besar dikemudian hari yang akan mengganggu harmonisasi dunia mereka.

Begitulah perumpaan, sebagai pendatang baru ibu mesti berpandai pandai menyesuaikan diri, kepala boleh sama warnanya tetapi pendapat tentu berbeda, tabiat, karakter mesti dipelajari dengan cermat, hidup bertetangga, se kampong bahkan senagari harus diyakini sebagai territorial yang sesungguhnya menyenangkan untuk digeluti, tetapi banyak orang yang merasa menjadi beban dan bukan menjadikan integrasi social sebagai ladang ilmu dan pematangan kepekaan social.

Buk Eli, sebagai guru senior tentu dibutuhkan bimbingannya, tampaknya Buk Eli tipe pribadi yang tertutup, bahkan terkunci oleh perasaannya sendiri dan kamar gelap harga dirinya.
Sebagai seorang istri posisi Buk Eli tentu dilematis, persoalan yang paling berat tentu menjadikan diri sebagai madu bagi wanita lain, gelagat itu tentu sedikit banyak akan menyeruak dengan aroma tidak sedap, tetapi justru Buk Eli ingin bermain api untuk terbakar sementara persedia air terbatas.

Tentu saja bagi Ibu urusan pribadi Buk Eli adalah wilayah privat yang tidak boleh diganggu gugat, tetapi wilayah kerja perusahan privat Buk Eli itu menjadi santapan hangat para ibu-ibu yang sedang mencari kutu, ketika bertransaksi dipasar, atau ketika mengambil rapor anak, mulut manusia tampa kendali tak seperti mulut tabuh atau gendang, yang bisa dikunci.

Buk Eli adalah problem dilematis bagi Ibu, berbaikan dengan Buk Eli tentu akan mengurangi Rasa hormat Buk Dan Kenek, Istri perdana Pak Jamhur, Suami pertama Buk Eli, Buk dan Kenek adalah tipe wanita yang sulit dimengerti, menggelegak satu ketika dan lain kesempatan menjadi lembut sedingin embun.

Pak Jamhur seorang pengusaha yang bergerak dibidang pemborongan atau lebih tepatnya sebagai seorang kontraktor proyek-proyek pembangunan dari jalan hingga jembatan, dari Pengadaan peralatan hingga pembangunan tempat jamban, dari aspal hotmik hingga lantai keramik, pokoknya beliau salah seorang tokoh Talang Babungo yang sukses merintis bisnis semua berkat tangan dingin Buk Dankenek.

Kata orang, uang sering kali menjadi liar dan menjadi petaka bagi siapa yang tidak sanggup menjinakkannya, Ustad sering bilang, bahwa ujian yang paling berat apabila kita diuji dengan harta benda, justru lebih berat bila kita diuji dengan kemiskinan dan kurang harta, karena harta yang mulai melimpah ruah, ada keinginan liar yang sulit dijinakkan, dan saban waktu menjadi palu godam yang mengetuk ngetuk jendela hati, dan godaan itu akhirnya mampu juga membobol sekeping hati Pak Jamhur.

Ada dua rumah yang berdiam didalam cintanya dan barangkali itulah salah satu alasan mengapa wanita enggan dimadu, menjadi istri pertama maupun nomor urut berikutnya sama sama tidak mengenakkan, tetapi pilihan itu dilakoni Buk Eli, dan mengapa pula Pak Jamhur harus rela didiamkan anak dan istri pertamanya.

GADIS KECIL DARI SURGA...

BAB 12

Malam begitu hening, dingin membeku, Talang Babungo disungkup malam suhunya sangat rendah, dan untuk mengusirnya tentu saja Sebo dan Selimut menyatu di badan. semenjak kejadian tadi sore, tubuh Era diam dan suhu tubuhnya panas sekali, sapu tangan dikeningnya kembali kering, hanya itu yang bisa dilakukan karena tidak ada antibiotik yang dapat menolong, yang ada hanya ramuan alam, daun jarak, kumis kucing yang diracik ayah.

Jika ada yang demam diantara kami maka 7 helai daun jarak adalah salah satu langkah pertolongan pertama, ibu senantiasa sigap, kompres di kepala Era sangat cepat keringnya, dan ibu kembali menambah air dan mengompreskan lagi, tetapi belum ada tanda-tanda panas badannya akan turun.

Ayah juga tak bisa menyembunyikan rasa kuatirnya, dan sesekali beliau meraba sekujur tubuh era, memijit, memijat dan berkomat kamit. entah apa yang beliau tasbihkan, lamat-lamat ayah kudengar ayah, menyebut asma Allah, keadan kritis seperti ini tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain memohon pertolongan Allah Swt,

Sore tadi Era jatuh, tergelincir, ditepi Batang Gumanti, keningnya lebam membiru, agaknya sebuah batu besar dibawah tempatnya berdiri, menjadi penyebab utama mengapa sebagaian wajahnya terutama kening dan samping pelipis membiru.

Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk pengobatan Era, puskesmas Talang Babungo bukanlah pilihannya yang tepat, karena hari-hari seperti ini jangankan dokter mencari para medispun alangkah susahnya, kerena memang mereka lebih sering tidak berada ditempat, dan kalaupun ada memang fasilitas pendukung untuk keperluan medis sangat terbatas.

Jika memungkinkan, pilihan tentu ke Alahan Panjang, disana ada Puskesmas yang agak representative, ada dokter, perawat dan apotik, tetapi sepertinya hari sudah semakin petang, angkutan tentu tidak ada lagi, jika ke Alahan Panjang satu-satu caranya adalah mencarter Oto Sisariak. Oto Sisariakpun sedang tidak enak badan, keempat-empat rodanya enggan berputar, sepertinya ada yang salah dalam system mekanis mobil itu, kecuali yang tersisa rarau-parau dan gaduh dari mesin yang sedang dalam tahap reparasi.

Jadilah Era sepanjang malam, menanggung beban kesakitan, tentu keningnya yang lebam bukti kuat bahwa dibawah kulitnya yang kuning itu, ada pecahan sel-sel darah, sel-sel yang membeku akibat benturan yang sangat keras, gumpalan darah beku yang membawa sakit yang amat sangat, tetapi Era merasakan dengan sesekali meringis, tidak ada rarau dan teriakan histeris.

“ Bagaimana lagi Yah” ibuku dibalut cemas yang amat dalam. Ayah juga bingung, sementara Pak Edi Tetangga sebelah, memberikan beberapa alternative, beberapa tentangga memang sudah berkumpul peduli sejak sore.

“ Kita minta pertolongan Dukun, Sabir saja, mudah mudahan dia dapat membantu”, dan dengan langkah cepat Pak Edi hilang ditelan malam, menuju rumah Dukun Sabir.

Sejemput berlalu Dukun Sabir telah menunaikan tugasnya sebagai seorang para normal, beberapa ramuan tersaji, dan semuanya tilah tersedia sebagai obat dan usaha Dukun Sabir hanyalah sebuah iktiar diantara keputusasaan, hasilnya adalah ketidakpastian.

Aku menjadi orang pertama yang paling tidak yakin bahwa Dukun sabir adalah solusi dari derita Era, sakit Era bukan karena Jin, Setan atau makluk halus yang bersemanyam, benturan keras di tepi Batang Gumanti menyebabkan pendarahan dibawah kulit wajahnya, dan itu tidak selesai dengan hanya sitawa sidingin, kumis kucing, daun jarak, atau air putih yang diambil dari sumber air yang mengalir deras, atau komat kamit mentera, capak-capak beruk. Tidak.

Dukun Sabir telah melakukan kebohongan, pembohongan public, kebohongan yang sama seperti ayamku yang hilang tempa hari kemudian kutemukan bermain dikandang rumahnya, ayam kesayanganku hilang, ayam yang persis seperti minitur burung onta dilehernya tidak ditumbuhi bulu sehelaipun, ayam yang nyentrik, antic dan menguggah rasa untuk memilikinya.

JIka kemudian tiba-tiba sudah menjadi hak miliknya, bagaimana bisa terjadi, kalau proses jual beli tidak pernah dilakukan, apalagi Aqad, salah satu alasan untuk mengatakan bahwa perpindahan ayamku ke rumah Dukun sabir dilakukan secara illegal, tidak syah dan melanggar hokum, dicuri Kawan.

Dukun Sabir kalau tidak mencurinya, tentu sudah menjadi seorang penadah, tetapi ayahku agak memiliki kesabaran, karena orang orang selalu mengganggap Dukun Sabir, orang sakti, sakti mandraguna, hebat, dan jika sedikit saja silaf dan salah salah kata atau tindakan, Dukun Sabir bisa berbuat kejam, dissamping ilmu pengobatan ia juga pandai merajam. Santet, ayahku tentu juga takut mati dengan cara keji. Apalagi kalau diguna gunai.

Tepi mengapa pula Pak Edi membawa dukun itu kerumahku, hendak mengobati Era yang semakin lemah, era yang kian diam, reaksi yang menunjukkan bahwa ia sedang mengdahapi masalah berat dikeningnya, wajahnya makin pias, bibir mungilnya bergerak lemah dan tak sekalipun matanya terbuka, dia selalu terpejam dan meringis.

Dukun Sabir melakukan pekerjaan terakhirnya, benar benar pamungkas, dengan sebuah telur bertuliskan aksara arab, dan keris yang dipegangnya menyentuh ujung telur, sehingga lambat lambat telur dalam bejana itu berputar, makin lama makin cepat, seperti putaran gasing. Dia kembali komat kamit seolah telah terjadi hal yang luar biasa, dan ini dilakukan oleh orang orang yang tidak suka. Orang orang yang sedang bermufakata jahat. Targetnya adalah ayah, tetapi tidak mempan.

Telur itu berputar bukan karena komat kamir sang dukun, bukan karena kekuatan sihir manteranya, telur sedang beraksi secara fisika, dalam titik keseimbangan telur yang berbetuk oval, berada posisi seimbang kalau mendapat tekanan dari atas, secara ilmiah akan berputar kearah tidak terberat tekanan ujung keris itu diberikan, Dukun Sabir, Penipu.

Dari puncak Baitus Shafa suara Al Arqan mendayu- dayu lirih, subuh telah datang, hening menjadi bening. Sehening rasa dan keinginan Ibu agar Era membawa harapan, dia telah berjalan cukup jauh dari sore terbang entah kemana, dia seperti bukan Era lagi dia hanyalah sesosok tubuh yang sesekali bergerak lemah, tetapi dengan reaksi yang tidak dipahami.

Era benar-benar terbang kenegerinya, meninggalkan Ibu dalam ratapan pilu, meninggal Ayah dengan wajah luka dan bersalah, meninggalkan ku dan saudara saudaraku, pergi menghadap Tuhan di Surga, ditempat pertama kali Adam dan Hawa merasakan kesenangan ilahi.

Putri Surga itu melepaskan kepenatannya, dengan seulas senyum, wajah munginya mengabarkan bahwa dia pergi dalam bahagia dan untuk kebahagian Ibu, Ayah dan Saudara saudaranya, pergi meninggalkan lara, cinta dan sayatan sukma, pergi meninggalkan jasad yang telah menemani ruhnya selama 6 tahun.

Era benar benar pergi ketika Al Arqam bersenandung dengan lafadz La illaha Illallah.

BUK RINI DAN DITEPI DANAU KEMBAR

BAB 19
Tidak seperti nilai EBTANAS sekolah dasar, NEM ujian EBTA tingkat SLTP ku sangat buruk dan jeblok, sebuah pencapaian yang sia sia. Tentu saja aku kecewa, firasatku mengatakan paasti ada yang salah, system telah memudurkan harapakanku, berbagai pertanyaan bergumul dalam benakku, apakah karena aku anak sekolah agama, maka tidak pantas meiliki nilai tinggi?, atau karena aku bukan bukan orang asli Talang Babungo, aku anak pesisir yang merantau?, aku protes, Aku tak terima kecurangan ini.

Perkiraanku meleset jauh tentu saja tidak aku saja yang kecewa, banyak pihak yang kemudian merasa kecewa, terutama guru-guruku, bukankah selama ini prestasi dikelas tak pernah turun, bahkan cendrung konstan, kenapa hasilnya jadi begini, apa yang salah, dan berbagai pertanyaan bernada kecewa seolah tak percaya, introspeksi diri yang mubazir.

Sesuatu yang telah kurencanakan, Sekolah di SMA lengayang Kambang, jadi sia sia, ketika daftar list penerimaan siswa baru, namaku, tertindih garis merah, aku berada pada posisi jauh bahkan nyaris paling buncit dari daftar yang tidak diterima, aku sudah menduga, bahkan Agus teman kecilku dengan bangga menyabet NEM 48 lebih, tentu jauh meninggalkan NEM ku yang hanya 32 skala 60, lebih rendah dari NEM SD, pada skala 50 angka 33.

Satu satunya adalah kembali masuk rayon di SMA Alahan Panjang, bukan aku tidak mau, tetapi aku rindu kampung dan ingin menyelesaikan SMA ku di Kambang, tentu akan ada cerita tentang yang berbeda antara Alahan Panajng dngan Kambang, cerita tentang keremajaan, dan menikmati masa muda, masa yang bergelora dan membara.

Bukan berarti dingin alahan Panjang membuatku gemetar dan gentar, tidak. Tampaknya nasib sudah menentukan garis lain tentang hidup, ada rahasia yang tak dapat kusingkap, rahasian penuh tabir, Tuhan tengah mempersiapkan sesuatu.

Justru danau diatas, tempat bermula aku tahu bahwa hidup sulit ditebak, hari hari yang indah, teman baru, guru guru yang berkarakter baru, berbagai corak dan kelakuan sahabatku, membuatku betah dibalut dingin.

Zulkifli salah seorang yang sangat menonjol, parasnya mengingatkanku pada Thaksin Sinawarta, Mantan orang penting negeri gajah Thailand, dahinya lebar, matanya yang jenaka, bibir dan giginya yang tertata, dan yang paling tentu otaknya yang cemerlang, berbakat.
Kifli, begitu kawan kawan menyebutnya, dia terlalu sering mnyelesaikan tugas-tugas kelas untuk pedoman bagi rekan rekan, dia sering menjadi tutor dan guru kami, dia yang menyejukkan, membawa kami dalam kesukaan, bahwa matematika itu menyenangkan, bahwa bahasa Inggris itu. bukan untuk dijauhi, Anak Sungai Nanam yang jenius dan jenaka, Dia sudah tahu sebelum murid yang lain tahu, dia sudah paham sebelum yang lain mengerti apa-apa, bahkan ketahuannya bukan sok tahu dan dibuat-buat, dia sering masuk pada substansi masalah, ketika yang lain masih mematut-matut diri dalam kitaktahuan.

Lain lagi ulah Si Andri anak Kades Alahan Panjang, yang lebih banyak bolosnya dibanding mengisi absensi, kami semua jadi menegerti, bahwa teman yang pintar haarus diberi penghargaan, dan yang bandel ya diberi pengertian, buku ketiga yang ku berikan kepada orang yang paling membuatku terkesan setelah Fitra Eldi.

Maka, danau kembar terimalah aku sebagai anak yang terbiasa dengan deburan ombak pantai, kini kunikmati riak membuih danau diatas, danau yang membuat imajiku liar dan bergerak, andai aku masih di Talang Babungo, maka aku akan bawa Citra Kasmili, kesisi, bersembunyi dibalik ilalang, membawa ruh dan separuh nafas terbang keangkasa hingga melam menjelang.

Danau Kembar, tugu putra tentu akan menjadi saksi betapu aku merindukan saat saat indah seperti itu, aku baru tahu dibalik keindahan itu aku menyesal meninggalkanmu dalam masa yang terlalu singkat.

Aku baru saadar bahwa Buk Rini Rusrarani sangat cantik, bibirnya indah dan menggerakkan rasa ingin tahuku akan sensasi seorang wanita, aku merasa berdosa jika kemudian membayangkan ‘lekuk-lekuh’ bodi sintal guruku itu adalah sesuatu yang salah, tetapi perasaanku tak berdusta, didarahku tengah mengalir rasa lain, dan rasa itukah yang dinamakan pubertas?.

Maafkan aku Buk Rini, aku menghianati ketulusanmu sebagai seorang ‘guru’ ketika matamu menatap dengan kasih, aku memandangmu dengan birahi, ketika nafasmu menyentuh hidungku memberi ‘harapan’ tentang masa depan aku lebih banyak menghayalkan ‘sesuatu’ yang membuat kelelakianku bangkit, duh, I am Sorrry, madam.

Aku dan Andri adalah murid langganan yang selalu menjadi perhatian Buk Rini, sebagai guru BP sekaligus wali kelas kami, Buk rini berkepetingan memperhatikan secara tuntas ‘seluk-beluk’ kami, anak-anak didiknya, jika terjadi perubahan sedikit saja, biasabya Buk Rini akan langsung ‘protes’ mengapa begini dan begitu, tetapi Aku dan Andri bersepakat untuk ‘bikin’ ulah sehingga akan selalu jadi perhatian Buk Rini yang cantik dan rupawan itu, kesepakatan itu aku buat dengan Andri, di Kedai pojok sekolah, biasanya pada jam-jam pelajran tertentu kami akan bolos dan dikedai itulah basecamp kami.

Pelajaran yang menjadi sasaran dan target bolos biasanya yang diasuh oleh guru-guru yang menurut kami membosankan lagian kalau tidak begitu, Pasti Buk rini mengganggap kami biasa-biasa saja, sayangkan kalau melewatkan perhatian Buk Rini yang menyenangkan itu, kendati kami sering di’doktrin’ tetapi sekatapun ucapannya tak pernah menyakiti dan menyinggung, guru yang betul betul memahami cara mendekati siswa, patut diapresiasi.
“ kemarin kalian kemana, kok tidak masuk’ buk Rini memelototi kami, matanya besar dan indah, hidungnya bengir, darahku tersirap, jantungku berdegup, “ Wendi, jangan gitu dong, kami gak bisa seenaknnya ninggalin pelajaran, kalau ada masalah tolong kasih tau, Ibuk” matanya makin tajam mengulitiku, sesekali kuberanikan menatap bola matanya, pandangan ku beradu, dia surut akupun menunduk, “ Andri, kamu juga, please dong, jangan sia-siain pelajaranmu, Ibu tahu kalian dongkol sama orangnya tapi jangan sama pelajarannya, ya” Tangan Buk Rini memelintir pena yang ada ditanggannya, “ya Udah, sekarang kalian masuk, gih” Buk Rini mengusir kami, aku dan Andri dengan lunglai meninggalkan ruangan Buk Rini, kukira ceramah kali kali ini agak singkat dan terlalu cepat sehimngga Aku dan Andri gak besa berlama-lama meinkmati wanginya aroma Buk Rini, kurang ajar.

Aku dan Andri tidak bermaksud kurang ajar jika kemudian sesnsasi Buk Rini membuat kami binal dan gaduh, gaduh pada diri sendiri, dalam diri yang sedang berubah, salahkah?, tentu tidak, karena seperti yang kubilang tadi, bahwa masa atau fase pubertas adalah fase liar dan menantang, siapapun bisa jadi objek fantasi, bisa teman sebaya, bisa oaring terkenal, bisa guru, dan apa saja, sesuatu yang ‘biasa’ saja dan menjadi ‘luar biasa’ jika ditilik dari aspek yang berbeda, maka kesimpulnnyapun akan berbeda pula.

Soal Buk Rini, memang cerita lain kualitas hubungan ‘siswa versus murid’ sayang Buk Rini kepada Andri dan Aku dan sebaliknya sayang, kami pada Buk Rini bergerak jauh meninggalkan sekat-sekat hubungan status formal, Buk Rini ‘mencintai’ kami sebagai murid atau adakah rasa lain yang membuat buk Rini memperlakukan kami agak “ekstra’ mencurahkan perhatian dan pengawasan, atau kami saja yang mengartikan ‘salah’ hubungan siswa dan murid dalam kontek ‘kasih sayang’, dan menjurus pada hubungan terlarang.

Perasaan yang terus menggeliat, antara aku dan Andri diam-diam terbangun rivalitas, bukankah kami dua sohib yang senasib dan sepenanggungan, jika Aku bolos Andripun akan bolos, jika aku di Kedai Pojok Andripun aka nada disana, aku dan Andri bak dua sisi mata uang, saling melengkapi. Tapi jika dalam diri Andri juga terbangun ‘rasa’ yang sama, maka bisa jadi persahabatan kami akan retak?, Aku harus ‘mengisai’ hati Si Andri, kalau memang dia kadung ‘cinta berat’ maka aku harus bersiap untuk mundur, tapi gimana mengukurnya, jangan-jangan malah justru perasaan aku yang lebih besar dan kuat.

Persoalan ini harus segera dikelarkan agar tidak menjadi duri dalam daging hubungan kami, ’perasan kurang ajar’ kami ini harus segera ada titik terang, hitam dan putih, kalau tidak berbahaya, dan akan menimbulkan bencana, banyak sekali galau yang menghadang, akan menjadi duri dalam daging, akan menjadi ‘tungau dalam selimut’ harus segera dibasmi.
“Hei, Coy, aku mau Tanya nih, jangan tersinggung ya, nih serius nih” aku berusaha tegar dan serius, seluruh mimic seriuskan terpancar dan parasku berubah tegang, Andri terhelak dan mendorong lenganku, “ Kamu, kenapa Wen, sepertinya serius, ada apa rupanya” tawanya makain berderai, aku serba salah, nyaliku ciut, ada bisikan agar aku tak usah mengutarakannya sekrang, terlalu cepat. “ Soal Buk Rini” aku memberanikan diri, membuka buhul, perasanku plong, setidaknya aku berhasil melewati rintangan berat, dan beban itu menjadi berkurang. “ Buk Rini, beliau kasih soal apa” Andri balik bertanya, “ O, Pasti Buk Rini kasih PR lagi nih, soal Matematika, kan” Andri menelisik, Duh, Andri pasti salah paham lagi, bukan soal itu, bukan soal Matematika, tapi soal Buk Rini, yang kita cintai, kataku membathim, “ Ya, soal Matematika Buk Rini” ucapkku berdusta, seperti biasa kalau soal Matematika itu Andri pasti punya solusi, dan solusinya dapat ditebak “ Jangan cemas, nanti malam kita kerumah Buk Rini” dia menjelaskan rencana solusinya, makin jauh panggang dari Api.

Buk Rini membukakan kami pintu, sosok yang membuat kami mabuk kepayang, terpampang, sejenak aku terkasima, Buk Rini makin cantik dan aduhai, ramburnya yang ikal masih basah, sepertinya Buk Rini baru saja selesai mandi dan rambutnya belum sempurna kering, baunya wangi, senyumnnya merekah. dan mempersilahkan kami masuk.

“Yuk, Masuk, silahkan gak usah grogi” Buk Rini menggoda perasaan kami, ‘gak usah grogi’ jelas grogi, yang pasti Aku merasa perasaan ini sudah tidak karuan, perasaan seorang kekasih yang sudah lama merindu, kulirik Andri, mulai kasak-kusuk, atas nama cinta pasti gorgi.

Sepanjang penjelasan dan uraian PR yang diberikan Buk Rini, sepanjang itu pula pikiran nakalku bergerak liar, dari ujung rambut hingga ujung kaki Buk Rini tak luput dari lirikanku, kendati curi-curi, aku yakin Andripun melakukan hal yang sama, perbuatan culas dan terlarang.
“An, dan Kamu, Wen, Ibu sayang sama kalian, untuk itu jangan sia-siakan sayang Ibuk ya, Kalian harapan Ibu, Ibuk Mohon kalian yang rajin ya“ kata-kata Buk Rini membuat kami tersedak, kata-kata yang lama kami nanti, ucapak yang keluar dari bibir Buk Rini, Aku tak dapat berkata-kata, lidahku kelu, Andri pun sepertinya merasakan hal yang sama, kami hanya tercenung.
“ Minggu Depan, Ibu mungkin tak berada disini lagi, Ibu dipindahtugaskan ke Bangka, kampung Asal Ibuk, maka, ingatlah pesan Ibuk,” tentu saja bak petir menyambar disiang bolong statemen terakhir Buk Rini membuat kami tak percaya, “ Ibu, akan pindah” aku menginginkan kepastian, dan Andri menggangguk minta kepastian. Seulas senyum Buk Rini makain menyakinkan beliau benar-benar akan meninggalkan kami.
“ Ibu tahu perasaan kalian, apa yang kalian rasakan berdua juga sedang Ibu rasakan, Ibu mencintai kalian, dan Ibu tahu cinta kalian pada Ibu,”Buk Rini terdiam “ Maka sengaja Ibu sampaikan ini pada Kalian, agar diantara kita tidak ada yang lari dari komitmen” Buk Rini makin sendu, Kami seoalh tidak percaya apa yang barusan disampaikan Buk Rini, tentang ‘ perasaan yang sama ‘ itu.
“Aku mencintai Ibuk” Andri membuka Pandora harinya
“Aku menyayangi Ibuk” Aku tak kalah dari Andri, jangan samapi terlambat.
“Terimakasih anak-anak, I Love you to” Buk Rini berbinar, “ Cinta sayang tulus dari kalian, menjadi modal bagi Ibuk bekerja lebih giat ditempat yang baru, Thanks, ya” Buk Rini mendekat, sebuah kecupan hangat mendarat dikeningku, aku terkasiap, darahku berdesir, Andri pun dapat bagian yang sama dan ditempat yang sama, sebuah peristiwa dramatis dan romantis, akhirnya beberapa tahun kemudian baru kumaknai bahwa ‘ciuman’ itu berarti bahwa kasih sayang seorang guru pada murid yang tak padam sepanjang masa.

SEGENGGAM ASA

Asnimar, Sosok yang pernah kulukis, tidak saja dalam buku gambar, ketika aku sekolah, tetapi sampai ke hati, tetapi sayang tidak lama, karena peristiwa Angku Soetan cukup dia saja yang menjalaninya. Aku tidak ingin tersesat dalam pusaran waktu yang melelahkan, terutama tentang kesetian, janji dan masa depan yang setiap orang tidak boleh menulisnya dengan kalimat pasti!.
Seraut wajah yang kemudian membuat aku lupa, bahwa aku masih mencangkul diladang, melupakan tentang kuliah yang belum mulai, entah kapan, atau tentang keinginan-keinginan.
Sosok bersahaja, seorang yang membuatku menjadi terobsesi. Romannya cerah, senyumnya bak setetes madu, dan keangkuhannya untuk membela harga diri patut di banggakan. Itu saja sekelumit iktibar yang dapat kutemukan dalam diri Asnimar, selebihnya aku mulai menyukai sosok wanita.
Awalnya, Tepat 17 Ramadhan, saat ustadz sedang meyiram jemaah Bhaitus Shafa dengan kalimat-kalimat Tuhan, purnama menjadi saksi, bahwa Asnimar terlalu angkuh untuk kusentuh, kala nafas sudah diubun-ubun.
“ Ini bukan cinta uda, ini nafsu, saya tidak suka“ mukaku padam menahan malu, untung saja kelam menyurukkan harga diriku, aku telah lancang, segera saja kukemas harga diri yang hampir jatuh.
“ Maafkan aku, aku tersilaf”
Pengakuan yang agak terlambat, tentu saja tidak ada istilah terlambat, untuk mengakui kesalahan tetapi sikap ini tentu lebih dihargai dan lebih baik ketimbang aku tidak berterus terang.
Hendra mengajarkan tabiat cinta yang jelas-jelas salah, cinta berlapis nafsu, menyangka loyang itu emas, dan itu bukan perangaiku, karena banyak alasan yang dapat menjadi peetimbangan dan referensi, kalau itu bukan perangai asliku, itu hanyalah watak sepuhan, watak yang tiba-tiba saja hadir dan mengelorakan.
Status Ayahku, Guru, Ustadz, dan menyandang predikat ‘mamak nagari’ sosok yang disukai oleh penduduk, tentu saja reputasi itu kujaga benar, seperti menjaga air dalam gelas yang hampir tumpah, jangan-jangan Asnimar juga salah seorang ‘kemenakan’ Ayah, kalau begitu aku memang telah lancang, untung saja ‘kecelakaan’ tidak terjadi.
Rasa malu itu biar ku tanggung sendiri, ayah bukan bagian dari cerita ini dan Hendra melukis sendiri kisahnya dalam hati mereka yang berbunga-bunga. Sesekali terdengar detak ranting patah, derak angin, dan ringkihan kuda dari dalam kandang.
Sayup-sayup ada cayaha yang berkelabat, Mak Iyas, beringsut dari rumahnya, menuruni tangga, darahku tersirap, ini akan jadi petaka, kalau persembunyian kami terendus, Mak Iyas akan menciracau heboh, dan nagari akan buncah, ‘anak Pak Guru, berintaian’.
Kami segera merunduk dan mengatur nafas, diam, hening, Mak Iyas, hanya berjarak beberapa depa dari kami, untung saja kami dapat melewati masa menegangkan itu dengan selamat, selesai berwudhuk Mak Iyas masuk kerumahnya, dan Asnimarpun lega.
“Aku takut uda” bisik Asnimar persis didaun telingaku, aku berusaha menghilangkan galaunya, ”Aku juga begitu Dik” jawabku serak, sedari tadi kami memang tidak banyak cakap, karena dari tempat seperti ini memang tidak ada yang akan dibicarakan kecuali sepatah dua kata, pelan dan sayup, dari balik dangau ini, kami hanya berprinsip ‘banyak bekerja sedikit bicara’ maksudnya lebih banyak diam, kecuali Hendra benar-benar menikmati kelamnnya malam.

Kamis, 15 Januari 2009

CERITA UNTUK MYANMAR

Tidak saja Junta Myanmar yang kalang kabut, tetapi masyarakat internasinal terkasiap, turut berduka cita atas segala penderitaan yang menimpa rakyat, sesungguhnya Badai Nagris adalah rentetan dari badai dahsyat yang tengah melanda negeri itu, begitulah kalau kekuasaan dipakai sebagai lambang dan kesombongan, rakyat menderita dan segelintir saja yang berpesta, lalu adakah pembelajaran berharga bagi junta, saat 100.000,- jiwa menggelepar dan akhirnya mati, saatnya sanubari para pemimpin dan pengambil kebijakan dinegeri tertutup itu membuka mata hatinya untuk memahmi kondisi terkini dan membiarkan demokrai bersemai dan tumbuh.

Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari cerita tentang nasib tragis Myanmar dan Aun San Shu Yi, tokoh prodemokrasi yang hidup dalam terali besi hanya karena menuntut persamaan didepan hokum, pengelolaan Negara, hak dan kewajiban dan kesamaan martabat antara manusia yang satu dengan yang lain, atau sekedar mempertimbangkan bahwa gender bukan persoalan berarti untuk partisipasi.

Kurunglah raganya tetapi hati dan pikirannya akan terbang menembus batas apapun meski tempok tebal, begitulah perumpaan jika hokum, keadilan dan rasa persaudaraan dan kesamaan dalam segala segi apapun dilecehabaikan, tidak juga untuk kenyaman beraktivitas social maupun politik, rakyat menjadi kenyang itu pasti dan mutlak tetapi ketika laparpun rakyat butuh persamaan kendati harus bersuara lantang, dan kondisi ini telah membawa perubahan banyak bagi demokrasi di Indonesia.

Maka, tidak ada salahnya kita merasa beruntung bahwa system demokrasi telah membawa pada perubahan besar dan radikal bagi perikehidupan di negeri ini tetapi memang disana sini ada berbagai kelemahan yang menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan antara pemenuhan dan kewajiban, tetapi setidaknya dari pada tidak sama sekali, celah terbukanya kran demokrasi dapat menjadi tauladan bagi Negara tetangga yang ingin belajar banyak dari kesuksesan Indonesia memformulasikan demokrasi dan kebebasan.

namun, tentu saja demokrasi yang kita bangun masih harus terus berkembang, sehingga demokrasi tidak sekedar persoalan suara, kebebasan berpendapat, HAM, kesetaraan hukum, memilih dan dipilih, tetapi sejatinya demokrasi hanyut sampai kemuara kesejahteraan.

Kalau tidak, demokrai yang saat ini kita nikmati akan menjadi bomerang, ketika rakyat tidak mendapatkan “kesejahteraan” sebagaimana janji demokrasi, maka tentu saja demokarasi akan tercampak dan terpojok.

Saat ini, banyak sekali kecaman yang timbul, dan kritik itu salah satu penyebabnya adalah demokrasi yang kita usung ternyata berat diongkos dan ribet. lihatlah bahwa data terakhir dari berbagai lembaga survey terpercaya menyajikan data bahawa makin rendahnya tingkat partisipasi rakyat pada berbagai Pilkada menunjukkan bahwa rakyat mulai jenuh, dengan rosponsibiliti yang turun tajam.

Coba kita bayangkan, berbagai versi pemilu atau setidaknya proses demokrasi mulai dari tingkat paling rendah samapi proses politik paling tinggi, dadri pemilihan Kepala Desa/wali nagari, pemilihan Kepala Dearah Bupati./walikota, gubernur, pemilu DPRD Kabupaten/kota dan DPRD Propinsi, DPR, DPD, serta Pemilu Presiden, kesemua itu membuat rakyat lelah.

Dalam tataran pembelajaran politik ternyata dinamikanya luar biasa, tetapi pada saat bersamaan bila diukur dari seberapa besar keinginan masyarakat merespon demokrasi akibat ulah perilaku “hasil” pemilu ternyata tingkat kepuasan masyarakat sangat rendah.

Hal ini akibat kebijakan pemerintah atau eksekutif dan legislatif yang tidak sesuai dengan harapan rakyat, justru kepercayaan yang rakyat berikan ternoda terutama berbagai persoalan yang membelit lembaga eksekutif dan legislatif yang mendapat amanah dari publik.